Srikandi KU

Srikandi KU

Minggu, 06 Desember 2009

Mojokerto- Jombang Jawa Timur

Kerajinan anyaman bambu sudah berkembang di Dusun Patuk, Desa Kertorejo, Kecamatan Ngoro secara turun temurun. Bagaimana nasibnya kini?

Jombang

SEJUMLAH ibu-ibu terlihat santai di sisi rumahnya. Sambil berbicara ringan, tangan mereka aktif merangkai bilahan-bilahan bambu tipis menjadi barang-barang perangkat rumah tangga.

Ya, di Dusun Patuk ini ibu-ibu memang cukup produktif. Sembari menunggu suaminya pulang kerja, setiap hari mereka membuat kerajinan anyaman bambu.

''Sebenarnya bukan hanya di Dusun Patuk. Tapi juga di Dusun Menje,'' ujar Budi Santoso, salah satu pengusaha kerajinan anyaman bambu di Patuk. Sama halnya Dusun Patuk, Manje masih berada di lingkup Desa Kertorejo.

Di Dusun Patuk, setidaknya terdapat 150 warga yang aktif membuat kerajinan anyaman bambu. Sedangkan di Dusun Menje, setidaknya terdapat 80 warga. Rata-rata pembuat kerajinan anyaman bambu tersebut adalah ibu-ibu. ''Jadi ini sebenarnya hanya pekerjaan sambilan warga,'' ungkap Budi.

Penghasilan utama mayoritas warga berasal dari pertanian. Selain itu, juga berjualan kerupuk. Karena di dusun tersebut, juga terdapat enam tempat penggorengan kerupuk skala besar.

Sayangnya, sampai kini, anyaman bambu yang dibuat mayoritas warga adalah jenis anyaman kasar. Produknya antara lain wakul (tempat nasi), tampah, kukusan dan tumbu. Saat ini, harga tumbu per biji hanya Rp 200. Sedangkan harga kukusan Rp 1000. Sementara harga tampah Rp 4 ribu.

Dari sisi keuntungan, kerajinan anyaman bambu kasar tersebut sangat minim. ''Paling hanya sekitar 20 persen saja,'' ungkapnya. Hal itu karena bahan baku yang digunakan untuk anyaman kasar sangat besar. Waktu yang digunakan untuk membuat anyaman kasar itu juga cukup lama.

Setidaknya jauh lebih lama bila dibandingkan dengan waktu untuk membuat anyaman halus. ''Untuk membuat tampah saja butuh 100 iratan kasar. Padahal untuk membuat wadah tisu, hanya butuh 16 iratan halus,'' urainya.

Dari sisi keuntungan, anyaman halus jauh besar. Persentasenya mencapai 40 persen. Atau dua kali lipat dibandingkan anyaman kasar. Jika nayaman kasar lebih banyak untuk barang-barang dapur, produk anyaman halus lebih banyak ke arah aksesoris. Seperti wadah tisu mulai yang kotak, bulat maupun lancip.

Dari sisi harga, produk anyaman halus juga jauh lebih mahal. Per biji tempat tisu persegi panjang Rp 12 ribu. Sedangkan tempat tisu bulat Rp 6.500. Harga tempat tisu kotak Rp 8 ribu. ''Dari sekian banyak perajin anyaman bambu, yang buat anyaman halus hanya 15 orang,'' katanya. Sementara ratusan orang lainnya, menggeluti anyaman kasar.

Kebanyakan warga enggan untuk belajar membuat anyaman halus. ''Pikiran ekonomi warga masih terbatas. Rata-rata mereka sudah senang bisa buat kerajinan lalu laku terjual. Mereka belum terpikir untuk meningkatkan keuntungan dengan membuat anyaman halus,'' bebernya.

Walaupun sebenarnya, mereka hanya butuh sedikit mengasah skill untuk bisa membuat anyaman halus. ''Rata-rata warga sudah puas dengan skill yang diwarisi turun-temurun. Mereka tidak mau menambah skill hasil pelatihan yang diberikan pemerintah,'' urainya.

Semua itu karena mereka sudah sangat mudah untuk menjual produknya. Dalam memasarkan hasil kerajinan, warga tidak perlu ke mana-mana. Mereka cukup tinggal dirumah karena banyak tengkulak yang mengambil hasil kerajinan ke rumah-rumah warga.

''Kalau untuk kerajinan halus, semua kita lempar ke pengepul dari Surabaya, untuk dipasarkan ke semua daerah'' ucapnya.

Dia sendiri yang mengoordinasikan 15 perajin anyaman halus di desanya. Rata-rata, tiap bulan pengiriman dirinya mampu melempar 2.000 item barang. Nilainya antara Rp 5 juta sampai Rp 7 juta. BY.dar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar